24 April, 2026

Menyambung Asa di Cikembang: Saat Kemerdekaan Tak Berbendera

Penulis : Kang Dion dan Teh Melsi – Aksi Bersama Banten

Berawal dari keresahan mengenai situasi ekonomi, politik, dan sosial di Indonesia, saya melihat sosok Pak Anies sebagai harapan baru untuk negeri ini. Setelah Pak Anies mendirikan Aksi Bersama, saya tanpa ragu langsung mendaftarkan diri. Dengan keadaan negeri ini yang tidak baik-baik saja, sudah saatnya setiap individu mulai bergerak dan berdampak langsung agar terjadi perubahan demi perbaikan di Indonesia sehingga anak cucu kita bisa hidup lebih baik di masa depan.

Pengalaman pertama mengikuti Aksi Bersama, yaitu pada hari kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2025. Pada tanggal 16 Agustus 2025, saya pertama kali bertemu dengan para teman aksi di kota kelahiran saya, yaitu Kota Serang. Walaupun baru pertama kali bertemu, saya merasa tidak asing ketika mulai berinteraksi dengan para relawan. Selain karena sama-sama tergerak oleh sosok Pak Anies, saya melihat ketulusan dan jiwa sosial yang tinggi dari para teman aksi. Mereka datang dari berbagai daerah di Provinsi Banten, tanpa mengharapkan imbalan sepeser pun.

Kegiatan yang dilaksanakan pada pertemuan teman aksi Banten untuk pertama kalinya ini cukup menarik. Dipimpin oleh Kang Syarif, pertemuan dikemas sedemikian rupa sehingga kami dapat berdiskusi dengan hangat dan saling mengenal dalam waktu yang cukup singkat. Setelah mendapatkan pembekalan dari Kang Syarif dan tim, kami berangkat menuju Desa Cikembang.

Desa Cikembang yang terletak di wilayah Kabupaten Pandeglang ini hanya berjarak sekitar 179 km dari tempat tinggal saya, yaitu di Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan. Ini merupakan pertama kalinya saya melihat kondisi Desa Cikembang dengan mata kepala saya sendiri. Walaupun bisa ditempuh 3-4 jam perjalanan darat dari Serpong, kesenjangan begitu sangat dirasakan.

Tanggal 17 Agustus 2025 menjadi hari kemerdekaan yang paling berkesan untuk saya pribadi. Saya melihat dengan nyata, rakyat Indonesia ternyata belum sepenuhnya merdeka. Di Desa Cikembang, tidak ada warga yang mengibarkan bendera Merah Putih. Jadi, ketika kami ingin mengadakan upacara bendera, kami harus menurukan bendera yang sudah berkibar di atas jembatan yang didirikan oleh Pak Anies dan Aksi Bersama. Ketika bendera dikibarkan, dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan bersama, para warga serentak melakukan hormat bendera dengan khidmat. Saat itu juga, saya meneteskan air mata. Saya begitu tersentuh; bagaimana para warga Desa Cikembang ini diabaikan oleh negara, tetapi mereka masih sangat mencintai Indonesia.

Setelah selesai dengan upacara bendera, kegiatan dilanjutkan dengan perlombaan. Dengan ketersediaan lahan dan alat yang terbatas, kami berusaha semaksimal mungkin agar para warga turut merasakan kebahagiaan di hari kemerdekaan. Di luar dugaan, banyak warga yang sudah menantikan adanya kegiatan perlombaan. Sebelumnya, warga Desa Cikembang tidak pernah membuat kegiatan perlombaan di desanya seperti yang biasa dilakukan oleh para warga di kota kelahiran saya, atau di daerah tempat tinggal saya.

Pada akhir acara, para warga yang dipimpin oleh Pak RT, berinisiatif membuat video ucapan terima kasih untuk Pak Anies. Lagi-lagi, hal ini membuat saya terkesan. Seandainya, para pemegang otoritas bisa lebih memerhatikan kondisi warga Desa Cikembang, saya yakin mereka tidak akan lupa akan jasa para pemimpinnya.

Tidak berhenti di situ, saya memiliki kesempatan untuk mengikuti aktivitas sosial dengan Aksi Bersama di Desa Cikembang pada bulan berikutnya. Pada tanggal 21 September 2025, bersama denga para teman aksi Banten, kami mengunjungi para warga Desa Cikembang kembali. Kali ini, kami berkesempatan untuk berinteraksi lebih dalam. 

Dari berbagai topik yang akan didalami, saya dan Melsi ingin mengetahui lebih banyak mengenai produksi gula aren di Desa Cikembang. Salah satu narasumber yang kami wawancarai adalah Bu Yesti. Tentunya, kami disambut dengan hangat oleh Bu Yesti di kediamannya. Bu Yesti adalah ibu rumah tangga biasa dengan aktivitas tambahan membuat gula aren di dapur tradisionalnya. Awalnya, kami berpikir bahwa gula aren ini dapat dipasarkan lebih luas lagi. Namun, setelah mengetahui fakta yang terjadi, produksi gula aren ini tidak dapat dilakukan dengan skala besar.

Pohon aren yang tumbuh di Desa Cikembang tidak begitu banyak sehingga hasil akhirnya, berupa gula aren, hanya dapat dijual ke sesama warga Desa Cikembang. Dampaknya, penghasilan Bu Yesti dari gula aren ini terbilang kecil. Oleh karena itu, Bu Yesti dengan tiga anaknya tidak bisa menggantungkan hidupnya dengan menjual gula aren. Untuk menambah pemasukan, suami dari Bu Yesti bersama dengan anak pertamanya, terpaksa menjadi buruh tani dengan mengambil kelapa.

Dari banyaknya informasi yang kami dapatkan pada hari itu, kesenjangan itu makin tampak jelas. Selain, penghasilan rendah dan lapangan pekerjaan yang sangat terbatas, warga Desa Cikembang juga masih kesulitan mengakses air bersih. Rumah para warga juga kondisinya sangat memprihatinkan; dibangun hanya dengan kayu dan bambu. Tidak semua warga juga memiliki kamar mandi sehingga mereka harus menumpang ke rumah warga lainnya hanya untuk sekadar buang air atau mandi.

Aksi Bersama berawal dari sebuah jembatan, menyambungkan asa para warga Desa Cikembang. Meningkatkan semangat para warga untuk menggapai pendidikan yang lebih tinggi, dengan harapan dapat mengubah hidupnya jadi lebih baik lagi. Hal ini tentunya bisa menular ke desa lainnya. Dari sebuah jembatan, harapan dan semangat itu akan terus tersambung ke seluruh penjuru negeri dengan satu tujuan, yaitu Indonesia yang sejahtera. 

Aksi BersamaPenulis