22 April, 2026

Menjemput Takdir Tiga Dekade: Catatan dari Jembatan Titian Persatuan Karanganyar

Penulis : Yusuf Rahman Firdaus – Aksi Bersama

Aksi Bersama — Perkenalkan, saya Yusuf Rahman Firdaus. Di sini saya ingin berbagi sedikit kisah tentang awal mula perjalanan saya terjun di Aksi Bersama, tepatnya saat proses awal pembangunan Jembatan Titian Persatuan di Karanganyar.

Semuanya dimulai setelah masa rekrutmen di bulan September. Saat itu saya masih dalam posisi menunggu, mencari tahu kegiatan apa yang sekiranya bisa saya kontribusikan. Sampai akhirnya di pertengahan Oktober, sebuah tawaran masuk di grup media: mereka membutuhkan seorang videografer untuk meliput pembangunan jembatan di Karanganyar selama tiga hari.

Awalnya, jujur saya sempat ragu. Sebagai mahasiswa Teknik Mesin yang masih aktif, saya harus berpikir dua kali untuk meninggalkan kelas. Namun, setelah mendapatkan izin dari kampus, saya akhirnya mantap memutuskan untuk berangkat.

Perjalanan dan Realita Lapangan

Sepanjang perjalanan menuju Solo, saya banyak berdiskusi dengan Bang Abo mengenai teknis di lapangan. Saya sempat bercerita bahwa latar belakang saya sebenarnya hanyalah videografer amatir yang biasanya membuat video sinematik untuk memuaskan ego seni semata. Namun di sini, saya belajar untuk mengambil rekaman yang mampu menggambarkan situasi nyata dan jujur.

Setibanya di Solo, kami melanjutkan perjalanan motor menuju Karanganyar selama satu setengah jam di bawah cuaca yang sangat terik. Perjalanan tersebut cukup ekstrem, ditambah lagi kami sempat tersesat karena ini adalah pengalaman pertama saya ke sana. Saat kami bertanya arah kepada warga, seorang bapak sempat memperingatkan, “Jangan lewat situ, Mas. Bahaya!” Kami hanya menjawab ingin melihat-lihat, hingga akhirnya ditunjukkan jalannya.

Begitu sampai di titik jembatan bambu tersebut, hanya satu kata di kepala saya: memprihatinkan. Medannya curam dan licin. Saat membawa motor turun saja, saya sempat terpleset. Di sanalah saya sadar, betapa berat perjuangan warga setiap harinya.

Keajaiban Wakaf 30 Tahun 

Di sela-sela liputan, saya mengobrol dengan warga mengenai sejarah lahan tersebut. Di sinilah saya merasa merinding. Ternyata, lahan di Desa Klotok yang akan digunakan untuk jembatan itu sudah diwakafkan oleh orang tua salah satu warga sejak puluhan tahun lalu. Dulu, sang ayah berpesan: “Tanah ini jangan ditanami, nanti bakal digunakan untuk kepentingan umum.”

Anaknya saat itu hanya mengiyakan tanpa paham apa maksudnya. Hari itu, pesan tersebut seolah menemukan takdirnya. Saya merasa kami datang ke sana untuk menjemput sebuah amanah yang sudah dipatok sejak 30 tahun silam.

Bukan Sekadar Program, Tapi Milik Bersama 

Sore itu juga, kami mengadakan rapat dadakan antarwarga dari dua desa. Kami menjelaskan bahwa jembatan ini akan dibangun secara swadaya, bukan sekadar program pemberian. Tujuannya agar warga memiliki sense of belonging atau rasa memiliki.

Antusiasme warga luar biasa. Mereka selama ini sudah sering mengajukan perbaikan ke berbagai instansi namun tidak pernah mendapat respons. Begitu melihat ada harapan nyata, mereka langsung bergerak. Sore itu juga, warga langsung mematok tanah dan mengukur pondasi dengan penuh semangat.

Melihat kekompakan mereka, rasa lelah dan panas yang saya rasakan langsung terbayar lunas. Saya berangkat untuk mengambil gambar, namun saya pulang dengan membawa pelajaran berharga tentang kekuatan gotong royong.

Aksi BersamaPenulis