20 April, 2026

Membedah Titian Persatuan Cilojami: Laboratorium Gotong Royong di Jantung Bandung Barat

Aksi Bersama — Sehari pasca-peresmian oleh Anies Baswedan pada Minggu (19/4), Jembatan Titian Persatuan Cilojami kini berdiri tegak sebagai penghubung antara Desa Sukasirna dan Desa Cilangari. Namun, di balik struktur baja dan kabel gantung yang membentang di atas lembah perbatasan Bandung Barat-Cianjur ini, tersimpan narasi panjang tentang pengabdian, profesionalitas, dan filosofi ruang publik yang selama ini jarang terangkat ke permukaan.

Dalam perbincangan mendalam di Podcast Pedjuang, Hari Akbar Apriawan selaku Project Management Officer (PMO) pembangunan ini, membedah proses satu tahun penuh sejak inventarisasi hingga jembatan ini operasional. Ia mengungkapkan bahwa jembatan ini dipilih bukan sekadar karena kebutuhan infrastruktur, melainkan karena tingkat urgensinya yang tinggi sebagai akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi antara Kampung Jamilega dan Cilonok.

Salah satu pokok pembahasan menarik dalam diskusi tersebut adalah filosofi jembatan sebagai ruang publik yang inklusif. Menurut Hari, jembatan merupakan simbol persatuan yang murni karena sifatnya yang tidak diskriminatif. Berbeda dengan tempat ibadah atau kantor organisasi yang memiliki batasan identitas, jembatan tidak pernah menanyakan siapa yang melintas. Kaya, miskin, apa pun latar belakang agamanya, memiliki hak akses yang setara tanpa syarat. Nilai inklusivitas inilah yang menjadi ruh dari gerakan Aksi Bersama.

Standar Teknis “JUDESA” dan Estetika Desa

Secara teknis, Titian Persatuan Cilojami mengacu pada panduan “JUDESA” (Jembatan Untuk Desa) dari Kementerian PUPR. Dengan panjang bentang mencapai puluhan meter dan lebar sekitar 1,5 hingga 2 meter, jembatan gantung (suspension bridge) ini dirancang kuat untuk pejalan kaki dan sepeda motor.

Biaya pembangunan yang mencapai sekitar 600 juta rupiah merupakan hasil dari skema crowdfunding (pendanaan publik). Visual jembatan pun sengaja dibuat mencolok dengan paduan warna biru-merah-putih dan aksen bambu. Penggunaan bambu bukan sekadar estetika, melainkan simbol kelestarian alam dan konservasi air di wilayah pegunungan tersebut.

Model pembangunan yang diterapkan Aksi Bersama mematahkan stigma bahwa proyek infrastruktur harus selalu menggunakan kontraktor besar. Tenaga kerja proyek ini murni melibatkan warga lokal—dari bapak-bapak yang memecah batu dan mengelas, hingga ibu-ibu yang menyediakan dukungan logistik.

Hari Akbar menjelaskan bahwa partisipasi warga adalah kunci. Dengan terlibat langsung, masyarakat memiliki rasa kepemilikan yang tinggi, sehingga pemeliharaan jembatan di masa depan menjadi tanggung jawab moral kolektif, bukan lagi beban yang dilemparkan kepada pemerintah.

Dampak Pengganda (Multiplier Effect)

Diskusi bersama Chozin Amirullah juga menyoroti bagaimana jembatan mengubah perilaku sosial. Belajar dari pengalaman di Karanganyar dan Cikembang, jembatan baru ini diprediksi akan menghidupkan ekonomi lokal. Titik-titik sunyi yang dulu dianggap angker kini berpotensi menjadi ruang publik, pasar dadakan bagi UMKM, hingga destinasi wisata bagi anak muda yang ingin menikmati senja di atas lembah. Jembatan ini bukan hanya soal memindahkan orang dari titik A ke titik B, melainkan tentang menghidupkan kembali denyut ekonomi dan memori sosial masyarakat desa yang selama ini terisolasi.

Aksi BersamaPenulis