23 April, 2026

Di Tepi Sungai Cikembang: Ketabahan Abah Narja dan Ambu Sawiyah

Penulis : Yola dan Nadia – Aksi Bersama Banten

Aksi Bersama — Di sudut sunyi Kampung Cikembang, Desa Cihanjuang, Pandeglang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Abah Narja (81) dan Ambu Sawiyah (60). Pasangan bersahaja ini menjalani hari-hari tua mereka dengan penuh kesabaran, ditemani seorang cucu berusia lima tahun yang setia mengisi keceriaan di rumah mereka.

Perjalanan Abah di kampung ini bermula pada tahun 1980. Saat ia pindah dari Sudimanik, Cikembang belum menjadi apa-apa—hanya hutan sepi dengan jalan setapak dan tiga buah rumah yang berdiri berjauhan. Meski hingga hari ini mereka menempati tanah milik orang lain, raut wajah Abah dan Ambu tak pernah menampakkan beban. Senyum tulus mereka justru menceritakan kebahagiaan yang jauh melampaui kepemilikan materi.

Setiap pagi, Abah yang sudah senja masih melangkah ke kebun. Di sana, ia merawat singkong dan pisang. Hasil buminya seringkali hanya cukup untuk mengisi piring di rumah. Jika ada lebih, Abah harus menempuh perjalanan setengah jam menuju Pasar Binuangeun untuk mencari pembeli. Di kampungnya, hasil kebun itu sulit laku, namun Abah tak pernah mengeluh.

Bagi mereka, sungai adalah nadi kehidupan. Tanpa sumur bor, sungai itulah yang menyediakan air untuk minum, mencuci, hingga kebutuhan ibadah. Selama puluhan tahun, gemericik air sungai telah menjadi saksi bisu bagaimana keluarga ini bertahan hidup dengan apa adanya, namun tetap merasa cukup.

Sembilan anak dan dua puluh satu cucu adalah kekayaan sejati mereka. Meski sebagian besar telah merantau jauh, kehadiran tiga anak yang tinggal berdekatan menjadi penawar rindu di hari tua. Di Cikembang, Abah dan Ambu terus merawat asa, membuktikan bahwa kebahagiaan sejati tidak butuh kemewahan—ia hanya butuh hati yang lapang dan syukur yang tak putus.

Aksi BersamaPenulis