24 April, 2026

Cinta dan Keajaiban Di Jembatan Cilojami: Catatan Mak Neneng Solehah

Penulis : Mak Neneng Solehah – Aksi Bersama

Nama saya Mak Neneng Solehah. Di usia saya yang menjelang 70 tahun ini, saya menjadi saksi betapa niat tulus mampu menghadirkan keajaiban.

Saya teringat saat awal pembangunan jembatan. Ada Pak Kusno yang baru saja berjuang sembuh dari sakit jantung. Dokter memvonisnya tidak akan lama, namun semangatnya tak padam. Dengan penuh rasa waswas di tengah hujan lebat dan jalur yang ekstrem, beliau tetap berangkat membawa mobil. Ajaibnya, sepulang dari sana, beliau justru sehat walafiat. Di saat yang sama, kami melihat ujian lain saat mobil Haji Dadan terperosok hingga harus putar balik. Itulah dinamika perjuangan kami sejak awal.

Lalu tibalah hari Minggu, 19 April 2026. Hari peresmian jembatan gantung yang kami nantikan. Kehadiran Abah Anies membawa suntikan semangat yang luar biasa bagi kami semua. Saking semangatnya, saya sampai tak merasakan lapar. Baru setelah acara usai, saya menyadari tangan saya bergetar dan kepala terasa pening. Begitu acara selesai, saya langsung membuka bekal nasi timbel untuk memulihkan tenaga.

Ada sedikit rasa sedih di hati, karena kali ini saya tidak sempat bersalaman apalagi berfoto dengan Abah Anies. Padahal, foto bersama beliau biasanya menjadi “oleh-oleh” yang paling saya banggakan untuk dibawa pulang. Namun tidak mengapa, rasa sedih itu tertutupi oleh kebahagiaan lain: saya bertemu kembali dengan rekan-rekan relawan yang sudah tujuh tahun berpisah. Pertemuan di Cilojami ini menjadi ajang silaturahmi yang mengharukan.

Saya juga ingin menyampaikan rasa bangga kepada panitia yang masih muda-muda. Mereka begitu ramah dan mau berfoto dengan nenek-nenek seperti saya. Saya sudah menganggap mereka seperti anak-anak saya sendiri.

Meski kali ini belum sempat berfoto dengan Abah, Mak Neneng tidak akan menyerah. Saya akan terus berjuang untuk bisa menyapa beliau di acara selanjutnya. Semangat saya tidak akan luntur dimakan usia!

Aksi BersamaPenulis