Setelah penyampaian refleksi mendalam mengenai filosofi pergerakan, agenda Ruang Titian: Titik Sambung di Shoemaker Studios, Cikini, memasuki sesi inti pada Minggu (19/7). Mengangkat tema besar “Menggerakkan Perubahan Dari Akar Rumput”, ruang diskusi dialihkan menjadi Ruang Interaksi dengan topik yang cukup lugas: “Lelah Menanti, Warga Beraksi Mendahului Lambatnya Birokrasi”.
Diskusi ini mempertemukan langsung para local champion (penggerak lokal) dari Cikembang, Karanganyar, dan Bandung dengan dua panelis ahli, yaitu Media Askar (Direktur Kebijakan Publik CELIOS) dan Okky Madasari (Sosiolog). Panggung interaksi dibuka dengan penyampaian highlight cerita oleh para penggerak desa mengenai tiga fase krusial: masa pra-pembangunan yang dipenuhi isolasi, proses pembangunan jembatan yang melelahkan namun penuh gotong royong, hingga dampak nyata pasca-pembangunan Jembatan Titian Persatuan.
Surmaedi (Cikembang), Suyadi (Karanganyar), dan Riski (Bandung) bergantian memaparkan bagaimana wilayah mereka bertransformasi. Sebelum jembatan berdiri, mobilitas harian adalah pertaruhan nyawa dan ekonomi berjalan lambat karena hambatan geografis. Namun, ketika warga memutuskan untuk tidak lagi menunggu intervensi formal dan memilih membangun sendiri bersama Aksi Bersama, peta sosial ekonomi wilayah tersebut berubah secara mandiri.
Kesaksian empiris dari para warga desa ini kemudian dibedah secara ilmiah oleh para panelis. Media Askar dari CELIOS menyuguhkan perspektif ekonomi pedesaan berbasis data makro dan mikro. Media memaparkan fakta bahwa selama ini pembangunan jembatan sering kali hanya dipandang sebelah mata sebagai proyek fisik semata. Melalui pembacaan data ekonomi, ia membuktikan bahwa akses fisik yang efisien terbukti langsung membuka ruang gerak perekonomian desa yang selama ini tersembunyi, meningkatkan pendapatan riil, dan memotong biaya logistik hasil pertanian secara signifikan.
Dari sudut pandang sosial, Okky Madasari merangkai kepingan-kepingan cerita para local champion menjadi sebuah kesimpulan utuh mengenai kekuatan modal sosial. Okky menekankan pentingnya mengembalikan agensi atau kedaulatan kepada warga melalui pendekatan pembangunan yang inklusif. Menurutnya, keberanian warga untuk bergerak sendiri tanpa menunggu birokrasi adalah bukti nyata bahwa modal sosial di pedalaman Indonesia masih sangat solid, dan hal inilah yang perlu dirawat agar gerakan serupa tetap tumbuh di wilayah lain.
Sesi Ruang Interaksi ini meninggalkan impresi kuat bagi audiens yang memenuhi studio. Salah seorang perwakilan akademisi yang hadir menilai bahwa dialog ini berhasil mendudukkan warga desa bukan sebagai objek penderita atau penerima bantuan pasif, melainkan sebagai subjek utama pembangunan yang setara dengan para pakar. Hubungan dinamis antara kesaksian lapangan dan validasi data ilmiah ini menegaskan bahwa masa depan desa kini mulai ditentukan oleh aksi nyata warganya sendiri.
