Penulis : Kak Syifa Indriani – Aksi Bersama Bandung
Kedatangan Abah Anies sudah dinanti sejak mobilnya pertama kali terlihat. Antusiasme warga pecah seketika. Saya mengikuti di mobil ketiga saat Abah naik mobil dolak melewati jalan sempit yang curam. Jujur, ada rasa khawatir yang menyelinap saat melihat medan yang begitu menantang.
Namun, setiba di lokasi, rasa khawatir itu berganti takjub. Pemandangan jembatan dengan sungai kecil di bawahnya, dikelilingi hijaunya sawah, memberikan suasana yang begitu damai.
Momen paling menggetarkan hati adalah saat Abah turun ke jembatan untuk menyambut para petani. Di ujung jembatan, saya menyaksikan pelukan hangat antara seorang bapak petani dan Abah Anies, disusul ibu-ibu yang membawa hasil panen mereka. Melihat air mata mereka tumpah, saya pun tak kuasa menahan tangis tersedu-sedu. Haru dan bangga bercampur jadi satu.
Bagi mereka, jembatan ini adalah urat nadi. Sebelumnya, mereka terpaksa bertaruh nyawa melewati jembatan lapuk karena itulah satu-satunya penghubung Bandung Barat dan Cianjur. Namun yang paling membekas adalah ucapan mereka: “Ini rasanya seperti mimpi bertemu Pak Anies yang biasanya hanya kami lihat di layar ponsel.”
Di tengah suasana haru, ada kejadian lucu yang tak terlupakan. Seorang emak berusia sekitar 70 tahun berbaju merah tampak terpaku menatap Abah. Saya menawarkannya untuk berfoto, dan Abah dengan sangat “gercep” langsung menghampiri.
Lucunya, saat sudah siap berfoto, si Emak tiba-tiba berbisik polos, “Pak Anies, abdi teu gaduh hapena” (Pak Anies, saya tidak punya HP-nya). Akhirnya, kami meminjam HP tetangganya. Tanpa ragu, Abah langsung mengambil HP itu dan mengajak si Emak berswafoto.
Pengalaman yang sungguh indah; perpaduan antara perjuangan, rasa haru yang mendalam, dan kehangatan yang bersahaja.
